Tekanan Global Bertemu Kerentanan Domestik: Dua Kekuatan Penyebab, Solusi Tegas Diperlukan
Targetperistiwa.my.id // JAKARTA, 11 JUNI 2026 – Pelemahan rupiah hingga ke titik terendah sejarah bukan kebetulan, melainkan akibat tekanan luar dan kelemahan dalam yang saling menguatkan. Menurut Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., masalah ini hanya akan tuntas jika akar penyebabnya diperbaiki secara bersamaan dan mendasar.
“Rupiah jatuh karena ada tekanan kuat dari luar sekaligus pondasi kita di dalam belum kokoh. Keduanya berjalan beriringan dan memperparah dampak satu sama lain. Tidak ada gunanya menyalahkan salah satu saja, solusinya harus menyasar keduanya,” tegas Oki.
Faktor Eksternal: Tekanan Tak Terelakkan
Pemicu utamanya adalah kebijakan Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang. Hal ini menarik modal dunia keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset dolar yang lebih aman dan menguntungkan. Ditambah ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi dunia, kebutuhan devisa kita makin besar, sementara pemasukan dari ekspor justru menurun.
“Ini hukum pasar global. Saat risiko dunia naik, modal lari ke dolar. Kita tidak bisa melawan arus, tapi kita harus punya ketahanan agar tidak hanyut terbawa arus,” jelasnya.
Faktor Internal: Kelemahan yang Memperparah
Guncangan luar menjadi dahsyat karena kondisi dalam negeri masih rapuh. Pertama, struktur perdagangan lemah: ekspor masih bahan mentah bernilai rendah, impor barang modal dan energi tak tergantikan, sehingga neraca selalu tertekan. Kedua, terlalu bergantung pada modal asing: pasar keuangan sangat bergantung dana luar; saat mereka pergi, rupiah langsung ambruk, dan belum ada penyangga dana dalam negeri yang kuat. Ketiga, ketidakpastian hukum dan aturan: perubahan kebijakan yang tidak konsisten dan penegakan hukum yang belum pasti dianggap risiko tinggi oleh investor, membuat kita kalah saing dengan negara lain. Keempat, ekonomi belum terdiversifikasi: masih bertumpu pada sektor yang rentan, belum beralih ke industri bernilai tambah tinggi.
“Pondasi kita belum kuat. Angin kencang sedikit saja dari luar, ekonomi langsung bergoyang. Masalah utamanya ada di sini,” tegas Oki.
Lingkaran Setan yang Mematikan
Kombinasi keduanya menciptakan siklus buruk: harga dunia naik menyebabkan impor makin mahal, defisit melebar, kepercayaan turun, modal kabur, rupiah jatuh, harga dalam negeri naik, hingga ekonomi melambat. Kebijakan menaikkan suku bunga hanya menunda jatuhnya, tidak menyembuhkan penyakitnya.
“Obat pereda nyeri tidak menyembuhkan penyakit. Selama struktur tidak diubah, rupiah akan terus rentan,” tandasnya.
Solusi Tegas dan Nyata
Menurut Oki Prasetiawan, pemulihan mutlak hanya bisa dicapai dengan langkah-langkah berikut. Pertama, transformasi ekonomi total: percepat hilirisasi industri agar ekspor bernilai tinggi dan tidak lagi bergantung harga komoditas dunia. Kurangi drastis ketergantungan impor dengan membangun produksi dalam negeri, terutama sektor energi dan barang modal.
Kedua, penguatan hukum dan kepastian mutlak: tetapkan aturan yang jelas, tetap, dan tidak berubah-ubah. Penegakan hukum harus adil dan tegas. “Kepastian hukum adalah modal ekonomi paling mahal. Tanpa ini, investor akan kabur dan kepercayaan tak akan kembali,” ujarnya.
Ketiga, kemandirian pembiayaan: kurangi ketergantungan utang dan modal asing. Bangun kekuatan dana domestik melalui tabungan masyarakat dan investasi dalam negeri sebagai penyangga utama ekonomi.
Keempat, diversifikasi ekonomi: jangan hanya bertumpu pada satu sektor. Kembangkan berbagai industri dan jasa agar saat satu sektor terguncang, sektor lain bisa menopang.
Kesimpulan
“Rupiah tidak jatuh karena musuh, tapi karena kita belum cukup kuat. Perbaikilah struktur ekonomi dan hukum di dalam negeri, barulah kita mampu berdiri tegak meski badai datang sekeras apa pun. Kuncinya: perbaiki kerentanan dalam dan bangun ketahanan menghadapi tekanan luar. Tanpa ini, stabilitas hanya mimpi,” pungkas Oki Prasetiawan.
Redaksi










LEAVE A REPLY