SURABAYA, 28 MEI 2026 – Tidak terpilihnya Cathlyn Yvaine Lesmana, pelajar berprestasi asal Makassar, dalam seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan tahun 2026 telah menimbulkan pertanyaan dan perhatian luas dari masyarakat. Hal ini bukan sekadar soal hasil seleksi semata, melainkan menyentuh nilai dasar kesetaraan dan keadilan yang seharusnya menjadi landasan setiap kegiatan yang mewakili nama bangsa. Menanggapi hal tersebut, Dr. Teguh S. Utomo, S.Psi., S.H., M.H. selaku Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI menyampaikan pandangannya dengan penuh kebijaksanaan.
Sebagai kandidat dengan rekam jejak yang sangat membanggakan—meraih Medali Emas dan Perak ajang sains tingkat internasional, juara berbagai kompetisi, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang baik—penyingkirannya tanpa penjelasan yang memadai tentu menimbulkan rasa keheranan. Hal yang banyak disoroti adalah latar belakang dan identitas yang dimilikinya, yang tampak menjadi perbedaan yang justru dianggap tidak menguntungkannya, meskipun kemampuan dan prestasinya sudah terbukti unggul dibandingkan yang lain.
KEBERAGAMAN ADALAH KEKAYAAN, BUKAN ALASAN UNTUK MEMILIH ATAU MENOLAK
Ditinjau dari sisi sosial dan kemasyarakatan, fenomena ini menjadi cermin penting bagi kita semua. Perbedaan suku, asal usul, maupun latar belakang seharusnya menjadi kekayaan yang kita banggakan bersama, bukan menjadi ukuran untuk menilai layak atau tidaknya seseorang mendapatkan kesempatan yang sama.
“Kita tentu berharap setiap kesempatan yang ada diberikan berdasarkan kemampuan, prestasi, dan karakter yang dimiliki, bukan dilihat dari siapa mereka atau dari mana asalnya. Ketika sosok yang sangat unggul dan terbukti kualitasnya tidak lolos tanpa alasan yang jelas, sementara yang terpilih adalah mereka yang dianggap 'lebih sesuai' dengan pandangan tertentu, hal ini tentu menimbulkan persepsi bahwa masih ada pembedaan perlakuan. Hal seperti ini sangat disayangkan, karena bertentangan dengan semangat persatuan yang kita junjung tinggi,” ujar Dr. Teguh dengan nada lembut namun tegas.
Ia menambahkan, pola pikir yang masih memilah-milah berdasarkan identitas tertentu, meskipun terselubung di balik aturan resmi, sangat berpotensi menimbulkan rasa tidak adil dan merusak keharmonisan antar sesama anak bangsa. Nilai utama yang kita pegang adalah persamaan hak dan persaudaraan, di mana setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan negara, tanpa ada yang lebih tinggi atau lebih rendah hanya karena perbedaan yang dimilikinya.
“Sudah sepatutnya penyelenggara menyadari hal ini. Indonesia adalah rumah bagi semua suku dan golongan, yang semuanya memiliki hak yang sama untuk berkarya dan mengemban amanah negara. Jika pemilihan dilakukan dengan memandang perbedaan sebagai kekurangan, maka kita tidak hanya menyalahi nilai luhur bangsa, tapi juga merusak fondasi persatuan yang sudah dibangun susah payah,” tambahnya.
JANGAN BIARKAN PERASAAN TIDAK ADIL MENUMBUHKAN JURANG PEMISAH
Menurut Dr. Teguh, kasus ini menjadi pengingat penting bahwa sikap eksklusif atau kecenderungan memilih yang “senasib seperasaan” saja, meskipun tidak dikatakan secara terang-terangan, dampaknya sangat terasa dan menyakitkan bagi pihak yang merasakannya.
“Kasus yang menimpa Cathlyn menyampaikan pesan yang cukup jelas: ia tidak terpilih bukan karena kurang mampu atau kurang berprestasi, melainkan semata-mata karena ia berbeda. Ini pandangan yang sempit dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Kita tidak boleh lagi berpikir seperti itu, karena setiap anak bangsa yang berprestasi adalah aset negara yang sama berharganya, tanpa memandang asal usul atau latar belakang apa pun,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan sikap penyelenggara yang belum memberikan penjelasan memadai, yang justru membuat keraguan dan persepsi negatif semakin berkembang di tengah masyarakat. Keterbukaan dan kejelasan seharusnya menjadi sikap utama, agar tidak ada ruang bagi kesalahpahaman yang bisa memperlebar jarak antar sesama anak bangsa.
DAMPAK YANG DITIMBULKAN HARUS MENJADI PERHATIAN BERSAMA
“Pesan yang tersampaikan kepada generasi muda, khususnya yang berasal dari kelompok minoritas atau berbeda latar belakang, sangat penting untuk kita perhatikan. Jangan sampai mereka merasa bahwa sehebat apa pun usaha dan prestasi yang diraih, mereka tidak akan dianggap setara hanya karena perbedaan yang tidak mereka pilih sendiri. Perasaan tidak dihargai dan tidak dipercaya inilah yang perlahan bisa menciptakan jurang pemisah dan merusak persatuan yang sudah ada,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa Paskibraka adalah wajah Indonesia, simbol persatuan dan kebersamaan. Oleh karena itu, proses pemilihannya pun harus benar-benar mencerminkan nilai-nilai tersebut: mengutamakan kemampuan, menghargai perbedaan, dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua.
PERLUNYA KEJELASAN DAN PERUBAHAN AGAR TIDAK TERULANG
Sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI, Dr. Teguh menyampaikan beberapa hal yang perlu segera diperhatikan:
Pertama, penyelenggara sebaiknya segera memberikan penjelasan yang lengkap, terbuka, dan mudah dipahami mengenai dasar penilaian serta alasan penetapan hasil yang diambil. Hal ini penting untuk meluruskan persepsi dan menghilangkan keraguan yang ada di masyarakat.
Kedua, jika dirasa ada hal yang kurang tepat atau kurang adil dalam prosesnya, maka sudah menjadi kewajiban untuk memperbaikinya dengan cara yang baik dan benar, agar tidak meninggalkan rasa sakit hati yang berkepanjangan.
Ketiga, perlunya perubahan pola pikir dan cara pandang bagi para pengambil kebijakan, agar semakin terbuka, semakin inklusif, dan benar-benar menjadikan kemampuan serta prestasi sebagai ukuran utama dalam setiap penilaian.
Keempat, berikan penghargaan dan pengakuan yang layak bagi setiap anak bangsa yang sudah berusaha keras dan berprestasi, agar mereka tetap merasa bangga menjadi bagian dari negara ini, apa pun latar belakang yang dimilikinya.
KESIMPULAN
“Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa sikap membeda-bedakan, meskipun dilakukan secara halus atau tidak disadari, dampaknya sangat besar bagi rasa persaudaraan kita. Kita tidak boleh membiarkan hal ini terus berlanjut. Mari kita bangun budaya yang adil, yang melihat kemampuan bukan rupa, yang menghargai prestasi bukan asal usul. Hanya dengan begitu, kita bisa menjaga persatuan dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa untuk berkontribusi memajukan Indonesia yang kita cintai,” pungkas Dr. Teguh dengan penuh harapan.
(Redaksi)










LEAVE A REPLY